Berdiri Untuk Apa?

Waktu menunjukkan pukul 9.30 pagi.

Seperti biasa saatnya saya tepuk tangan sambil berseru “Ayo stand up dulu yuk”. Kadang harus ditambah dengan seruan “Yuk, sebentar aja, makin cepat mulai makin cepat selesai”. Kadang juga harus diselingi lari-lari kecil mendekat kepada board(Kanban) dari masing-masing tim.

Yak, itulah keseharian saya dalam memulai hari, dengan daily stand up / daily scrum / daily meetings atau apapun lah itu namanya (nama cuma sekadar nama..), salah satu ritual utama dalam Scrum Framework.

(kurang lebih seperti ini)

“Hi guys, Thank you udah dateng di daily stand up. Yuk, update dulu yuk. Dimulai dari siapa? Mirza deh..”.

M: “Gw hari ini mau bla-bla, gw kemarin udah bla-bla, hmm gak ada blockers atau apapun sih..”

Saya selalu membawa laptop dengan membuka Evernote, lalu dengan detil mencatat satu persatu apa yang dikemukakan anggota tim dalam format seperti ini:

| Nama tim | Nama | Yesterday | Today | Blockers |

*mencatat*

“Oke, next..”

Lalu setelah itu biasanya saya langsung mendokumentasikan hasil daily stand updalam Confluence page dan Asana. Ya, saya pakai Asana untuk mencatat seluruhblockers yang ada agar bisa segera dicarikan solusinya. Kenapa? karena salah satu tugas Scrum Master yang saya tahu berdasarkan Scrum Guides yaitu: membantu tim agar bisa self-organize menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan menjadi fasilitator.

Namun dengan proses di atas saya malah jadi menemui beberapa kendala:
1. Saya jadi susah fokus dalam mendengarkan uraian tim karena harus multitaskingantara mendengarkan dan mencatat.
2. Setelah daily stand up selesai, saya harus merapikan dokumen, mencatat dalam Asana. Memakan waktu, belum sempat mengaddress masalah, eh sudah harus daily stand up dengan tim yang lain.

Am i doing the right thing as a Scrum Master?

Belakangan ini saya sadar, saya sepertinya salah. Kalau pekerjaan saya mendengar update masing masing tim dengan tanya kemarin ngapain, hari ini ngapain, dll, apa bedanya saya sama Project Manager?. Kalau Project Manager, ya wajar sih tanya update, kalau Scrum Master apa perlu?.

Sepertinya gak wajib. Kita boleh tau (lebih baik jika tahu) tapi bukan itu utamanya. Goal utama kita adalah bagaimana tim bisa dengan terbuka sharing seluruhblockers mereka sehingga kita bisa dengan segera bantu selesaikan. Kalau dalam bahasa saya: “kita amprokin deh tuh”, alias kita ketemukan dua belah pihak yang seperti gak terhubung, biar bisa saling bantu, atau cari titik temu antara permasalahan tersebut. Biasanya sih yang paling sering antara Product Manager (Product Owner) dan Development Team.

Masalahnya biasanya:
1. Ada implementasi fitur yang tingkat kesulitannya di luar ekspektasi.
2. Fitur ternyata kurang detil baik secara deskripsi maupun secara UI/UX.
3. etc.

Jadi sejak sekarang, saya tinggakan deh tuh laptop tiap daily stand up. Paling senjata saya adalah post it untuk menandai mana story (Sprint Backlog) yang sedang adablockers-nya atau untuk mencatat to do list saya setelah daily stand up.

Setelah itu? Ya amprok-amprokin deh tuh..

Reducing less important documentation, more time to assist your team.

“Yuk, sekarang sharing dulu, gak mesti update ya. Siapa mau jadi volunteer untuk mulai duluan? Nanti pilih siapa selanjutnya ya..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *