Impian Vs Prioritas

13

Hai kawans,
Saat kamu membaca postingan ini, saya sedang dalam kebimbangan.
Persoalan yang sebenarnya sederhana dan mungkin kawans pernah alami sebelumnya.
Mari saya awali terlebih dahulu mengenai siapa diri saya.

Saya adalah mahasiswa Sistem Informasi UI yang sebelumnya getol ingin masuk Komunikasi UI. Hal ini tercermin dari kegemaran saya yang selalu ingin berjumpa dengan orang baru, mengenal, bercerita, dan sharing apapun yang saya punya. Dari pribadi sendiri, saya adalah satu-satunya anak dalam keluarga yang tidak pernah malu untuk selalu jujur mengatakan apa yang saya rasakan contohnya saya pernah kirim surat cinta untuk teman wanita saat masih duduk di bangku TK. Memalukan? enggak dong, cuma rasanya ingin pindah sekolah saja. Padahal saat itu saya belum jadi comic.

Saat seleksi penerimaaan mahasiswa baru berlangsung, sebelum memilih jurusan, sebagai anak yang budiman (baca : bukan Arief Budiman a.k.a Arief Didu) saya terlebih dahulu mendiskusikan pilihan jurusan yang akan saya pilih kepada orang tua. Singkat cerita, orang tua menyarankan saya untuk menikah.. ups sorry maksud saya mengurungkan niat saya masuk Komunikasi dengan alasan :

Nanti kalau kamu masuk Komunikasi kemampuan kamu cuma satu, komunikasi. Kenapa kamu gak pilih yang lain aja jadi skill kamu nanti bisa saling melengkapi.

dan

Kamu kan jurusan IPA, mosok udah susah-susah masuk jurusan IPA eh kuliahnya pilih IPS.

Saya yakin ada diantara kawans yang bernasib sama seperti saya.

Singkat cerita lagi jadinya saya masuk di Sistem Informasi UI (IPA) karena 2 kali mau coba masuk jurusan Ilmu Komputer UI selalu gagal (PMDK gagal, SIMAK pilihan 1 juga gagal #ceritanyamausombong).

*mari kembalikan suasana menjadi dramatis*

Sebenarnya tidak ada yang bermasalah dengan ini. Nilai yang saya peroleh cukup memuaskan, tidak ada masalah dalam pergaulan karena ya tadi basically saya ini ingin masuk Komunikasi. Bahkan saya terlibat aktif pula dalam beberapa kepanitiaan dan organisasi di kampus. Sampai suatu ketika saya memutuskan untuk tidak kuliah selama setahun (statusnya “cuti”, bukan cuti) untuk bekerja di Yahoo! Indonesia (cerita lengkapnya akan ada pada postingan yang lain).

Di sela waktu bekerja itulah saya mengenal Stand Up Comedy. Disini lah masalah dimulai. Singkat cerita (nanti akan ada post khusus soal stand up comedy dalam hidup saya) saya menggeluti ini dari yang rajin banget Openmic (baca : latihan bagi para stand up comedian) nomaden yang tempatnya antah berantah dimanapun didatengin sampai akhirnya dipercaya untuk mengisi beberapa acara contohnya Open mic Metro TV edisi 14 Februari 2012, Stand Up Comedy Battle of Comic Metro TV “Penari Latar” edisi 7 Juni 2012, bahkan Stand Up Comedy Show Spesial Edisi Malam Takbiran Meto TV, 18 Agustus 2012.

Saya menyadari jika saya telah melangkah jauh dalam dunia Stand Up Comedy ini. Dan secara tidak disadari saya sedikit meninggalkan digital community yang menjadi awal saya terjun ke komunitas. Sampai akhirnya saya menyadari jika saya telah menghabiskan tenaga saya disini. FYI bikin materi itu gak gampang loh!, mesti muter otak kaya bikin optimalisasi algoritma #lebay. Apa saya harus kembali ke jalur utama saya? oh tapi comic brotherhood ini terlalu hangat untuk ditinggalkan.

Kuliah? nah ini masalah utamanya. Saya memutuskan untuk kembali fokus kuliah semester ini, tapi hasilnya? liat SIAK saya saja :p. Bahkan openmic Stand Up Indo Depok tiap selasa malam yang notabene-nya dekat sekali dengan kampus harus saya abaikan karena bentrok dengan kuliah malam Operating System.

Puncaknya, saya harus rela mengurungkan niat saya untuk ikut Audisi Stand Up Comedy Kompas TV season 2 dan 3. Mungkin memang sudah menjadi jalan saya untuk belajar lewat komunitas saja.

Ya, hidup itu pilihan yang tidak membutuhkan kunci jawaban, hanya butuh keyakinan.

Inilah pilihan hidup saya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *