Mahasiswa UI? Pilih Beasiswa atau Rokok?

Sumber : Gerbatama Edisi 47 November 2010 Sumber : Gerbatama Edisi 47 November 2010

Sejujurnya ini adalah postingan blog lama saya pada tahun 2010.
Berhubung sedang banyak pendapat soal rokok, mari kita jabarkan kembali fakta berikutnya yang terjadi pada kampus saya sendiri, Universitas Indonesia.

Mulai tahun 2012 (rencana awalnya, sekarang bahkan sudah lewat 30 hari), Universitas Indonesia sebagai kampus yang mengusung program Go-Green akan memberlakukan aturan untuk dilarang merokok di dalam area kampus. Sebuah wacana yang telah diusung sejak tahun 2009 namun belum dapat direalisasikan secara menyeluruh di seluruh Fakultas yang ada di UI. Dan tampaknya akan tetap menjadi wacana. Untuk mendukung hal tersebut, maka UI secara preventif akan mencoba untuk mencoret mahasiswa perokok aktif dari list calon penerima beasiswa yang penyelenggaraannya diserahkan melalui pihak UI.

Sebuah langkah bijak yang tentu saja menuai banyak kontroversi. “Merokok adalah hak asasi manusia”, semboyan yang selalu dikumandangkan oleh kaum yang kontra akan kebijakan tersebut. Namun bagi para kaum yang pro, ”Hei bung saya juga punya hak asasi yang sama untuk menikmati udara segar dari pohon pohon yang sudah Pak Gumilar beli mahal mahal!” (baca : pohon-pohon yang dibeli Pak Gumilar juga menghabiskan anggaran M-an dan juga sempat menjadi kontroversi). Di dalam postingan ini mari kita coba telaah bersama.

1. Merokok adalah hak asasi manusia
Saya sangat setuju dengan opini ini namun kita harus ingat bahwa selain ada hak asasi tentunya juga ada lawannya yaitu kewajiban asasi (ngasal). Maksudnya hak asasi manusia tentunya punya batasan, dimanakah batasannya? dibatasi oleh hak asasi yang orang lain punya. Oleh karena itu argumen ini kurang tepat karena jika diimplementasikan ternyata memang benar bahwa orang lain punya hak yang sama dengan kita, tentunya dia ingin menikmati udara segar yang ada di UI. Apakah ini melanggar hak asasi bagi para perokok? tentu tidak, perokok tetap bisa merokok dengan tentu saja harus lihat situasi dan kondisi. UI merupakan lingkungan akademik dan jelas-jelas di dalam peraturan perundangan (saya lupa, mungkin bisa bantu menambahkan) bahwa ada larangan merokok di dalam lingkungan akademik. Maka kita juga punya kewajiban untuk menghargai hak asasi orang lain yaitu mahasiswa yang tidak merokok di dalam kampus. Kalau dikosan? terserah saja. Mau merokok samsu 4 batang sekaligus sambil kayang juga boleh. Toh seharusnya kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk (namanya juga “mahasiswa”, bukan siswa biasa lagi).

2. Tidak adil dan rentan terjadi penipuan.
Jika difikirkan secara seksama, buat apa UI dan pihak pemberi beasiswa lainnya capek-capek membiayai kuliah mereka yang notabenenya seharusnya jatah untuk mahasiswa yang kurang mampu, malah buat mereka yang menghambur-hamburkan uangnya untuk dibakar. Untuk yang masalah penipuan tentu saja UI harus menerapkan langkah langkah yang signifikan untuk menyelidiki apakah setiap berkas yang diajukan benar-benar diajukan oleh mahasiswa yang tidak merokok. Kalau perlu lakukan tes urine, tes sebat, atau tes curanrek (baca : kebiasaan mengambil korek milik orang lain yang umumnya menjangkit perokok). Bukan hanya asal “tebak tebak buah manggis” atau “capcipcupkedebangkuncup”. Memang sedikit ribet sih, namun demi Go-Green harus siap diperjuangkan. Sayang kan Pak Gumilar udah beli pohon gede-gede, mahal-mahal pula, sampai dicaci-maki mahasiswa tapi tetap saja udara kampus dicemari oleh polusi dari asap rokok.

Jadi, kamu wahai para perokok mau pilih yang mana?
1. Hentikan merokok dan cari peluang beasiswa = gentleman.
2. Tidak berhenti merokok, cukup palsukan berkas, dan cari peluang beasiswa = penipu.
3. Berhenti merokok, namun tetap tidak mau cari peluang beasiswa = sia sia.
4. Tidak berhenti merokok namun tetap tidak mau cari peluang beasiswa = situ mahasiswa?

2 comments

  1. Teman-teman dekat saya merupakan perokok. Seolah tak lengkap tanpa rokok, sehabis makan selalu saja teman saya mengambil sepuntung rokok kemudian menyulutnya. Pelengkap hidangan katanya. Saya pun yakin jika mereka sedang berada di kamar kecil atau sedang menunggu sesuatu, mereka pasti merokok.

    Walau demikian, alhamdulillah hingga saat ini saya bukan perokok aktif dan teman-teman saya pun mengerti dengan menghindarkan saya dari asap rokok mereka ketika kami sedang asyik ngobrol ria ngalor ngidul ini itu.

    Saya bersyukur dengan hal itu karena mereka bisa menghormati hak orang lain terhadap udara segar yang tidak terkontaminasi zat-zat berbahaya akibat asap rokok. Saya sebut itu sebagai etika merokok. Sebenarnya etika tersebut juga mencakup pernyataan-pernyataan Pepe di post ini dan saya setuju dengan hal-hal itu.

    Masih terkait dengan rokok, saya masih ingin memberikan pelurusan perspektif terhadap perokok pasif yang benci sekali terhadap perokok aktif dan tidak bisa menerima alasan sulitnya perokok aktif meninggalkan kebiasaannya. Seolah semua perokok aktif itu selalu tidak punya etika dan tidak punya moral. Sebal sebul asap sana sini.

    Perlu ditekankan tidak semua perokok aktif seperti itu (red: tidak punya etika). Buktinya teman-teman dekat saya, mereka mengerti saya bukan perokok dan mereka mau mengalihkan asap rokok mereka jauh-jauh dari saya. Dan kebiasaan merokok itu sangat sulit sekali dihentikan. Ibarat kecanduan ini bisa diibaratkan dengan kecanduan abg terhadap social media atau internet. “Duh, mati aja deh gue, gak ada sinyal, SOS???!!! gak bisa fesbukan, twiteran, bbm-an. Boring beuuuuut!!!!! Heuffffttt???!!”. Seolah-olah mereka akan mati tanpa internet. Padahal tidak. Hal ini sama halnya dengan perokok aktif. Seolah-olah mereka akan mati tanpa merokok sehabis makan atau lagi boker di WC.

    Bagaimana menghilangkan kecanduan merokok? Ya itu kalau diterusin di sini jadi malah tambah panjang lagi. Jadi guest post kayaknya. :lol: Maap ya, Pe, udah numpang blogpost di komen post ini :lol:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *