Tag Archives: Indonesia

Agile Team Doesn’t Need a Project Manager

Why?

Because every member in agile team (should) knows, really knows, how to manage themselves. They can pick the task by themselves as long it’s match with the goal that been decided by (who?) the team (of course!).

Team? why it isn’t on Product Owner?
From my perspective, even the goal comes from Product Owner, it should be agreed by the whole team. Product Owner should explain, persuade, and convince the team that the goal that been represented by every single backlog is the most important one.

Then, let the team pick the task, pick their “making” time.
No need to “micro manage” them.
No need to being a “control freak”.
No need to make a SOP on what time they should come up in the office. (because we never ask them to go home on the specific time, isn’t it?) (or even give them a compensation for being overtime, isn’t it?)
No need to control when they should work, when they should take a rest.

You only need to:
Make sure they still on the track towards the goal.
Remind them.
Find the blockers, help them to solve it (by themselves).

And make sure they’re ..

Happy.

Tanyain Dong

Dev: Pe, tolongin tanyain ke Joe (Product Manager) dong, story yang ini harusnya gimana?, belom jelas nih..

Joe: Pepe, do you know how much complexity points that Happy team will commit for the next sprint?

*bolak-balik*

Capek sendiri, pusing sendiri, kayaknya kok sibuk banget (sibuk?, atau disibuk-sibukkin??). Inginnya sih memfasilitasi tim, tapi kok bukannya membuat tim makin mandiri, malah membuat tim makin manja. Makin males nanya langsung. Minta tolong tanyain terus. Padahal bisa tanya langsung entah via Slack, e-mail, bahkan bisa “nyamperin” orangnya langsung.

Lalu kita merasa sudah jadi Scrum Master yang hebat, yang sukses, karena kita bisa membantu tim. Rasanya seperti:
1. “Wow, saya punya power nih”.
2. “Wah, tim udah tergantung saya banget nih, kalo gak ada saya, tim gak akan jalan”.
3. “Yes, saya sudah menjadi orang yang paling penting di tim saya”.
4. etc.

Ada yang merasa kaya gitu?
Hmm..

Are you a Scrum Master? or just a messenger?

Agile yang saya tangkap itu berarti kita siap menerima perubahan. Perubahan tersebut bukan berarti berlangsung terus menerus dengan tidak terkendali sehingga terjadi chaoslho. Gimana caranya? ya harus bisa menanamkan Agile mindset dulu yang salah satunya: Transparency, yang berarti Terbuka (seluruhnya, bukan sebagian, atau sebagian besar). Biar apa? biar kita tahu kondisi masing-masing, dan bisa cepat ambil tindakan strategis (Agile mindset berikutnya: Adapt).

Kalau setiap saat harus panggil Scrum Master untuk tanya ini, tanya itu, yang sebenarnya bisa ditanyakan langsung ke PM/PO (atau sebaliknya), dimana letak keterbukaannya?. Gimana mau ambil tindakan cepat kalau terjadi apa-apa, kalau prosesnya lambat, berbelit belit: tanya sana, sampaikan sini, tanya sini, sampaikan sana. Ini mau bikin product atau bikin KTP di kelurahan?.

Penerapan di HappyFresh sih gak se-ekstrim: “Tanya langsung ke dia dong, kan punya mulut”. Tapi at least saya mulai pelan-pelan dengan jawaban yang tidak memanjakan.

“Belum jelas ya? yuk tanya Joe langsung”. 

“Coba nanti kita diskusi ya sama tim, saya gak bisa jawab dengan pasti nih sebelum tanya langsung”.

Bukan berarti gak nanya, atau gak peduli sama tim lho. FYI, saya setiap hari kalau lagi senggang kerjaannya ya siskamling atau kadang bikin checkpoint dalam beberapa interval jam sekali untuk sekadar ngupdate blockers: “Gimana? aman terkendali? ada yang butuh dibantuin gak? ada kendala?” – “Yuk ke dia langsung”. Walaupun kadang-kadang ada sih yang masih malas, “Udah deh Pe, lo aja yang tanyain”. Tapi sih mulai beberapa minggu belakangan sering saya paksa akhirnya, HAHAHA.

Hayo, jangan sampai salah kaprah ya. Goal dari Agile team itu sepengetahuan saya agarall team member become self-organized. Bukan kita-nya malah menjadi perantara pesan. Kita harus encourage tim supaya bisa melakukannya sendiri.

Sampai pada akhirnya Scrum Master tidak akan dibutuhkan lagi.
Lalu akan kehilangan fungsi dan peran.
Dan akhirnya Scrum Master akan kehilangan pekerjaannya.

Ironi kan?

Sampai pada titik itulah tanda kesuksesan seorang Scrum Master sesungguhnya.

(Lalu ia akan mencari tim lain yang masih membutuhkannya, untuk disulap kembali menjadi self-organized team berikutnya)

Berdiri Untuk Apa?

Waktu menunjukkan pukul 9.30 pagi.

Seperti biasa saatnya saya tepuk tangan sambil berseru “Ayo stand up dulu yuk”. Kadang harus ditambah dengan seruan “Yuk, sebentar aja, makin cepat mulai makin cepat selesai”. Kadang juga harus diselingi lari-lari kecil mendekat kepada board(Kanban) dari masing-masing tim.

Yak, itulah keseharian saya dalam memulai hari, dengan daily stand up / daily scrum / daily meetings atau apapun lah itu namanya (nama cuma sekadar nama..), salah satu ritual utama dalam Scrum Framework.

(kurang lebih seperti ini)

“Hi guys, Thank you udah dateng di daily stand up. Yuk, update dulu yuk. Dimulai dari siapa? Mirza deh..”.

M: “Gw hari ini mau bla-bla, gw kemarin udah bla-bla, hmm gak ada blockers atau apapun sih..”

Saya selalu membawa laptop dengan membuka Evernote, lalu dengan detil mencatat satu persatu apa yang dikemukakan anggota tim dalam format seperti ini:

| Nama tim | Nama | Yesterday | Today | Blockers |

*mencatat*

“Oke, next..”

Lalu setelah itu biasanya saya langsung mendokumentasikan hasil daily stand updalam Confluence page dan Asana. Ya, saya pakai Asana untuk mencatat seluruhblockers yang ada agar bisa segera dicarikan solusinya. Kenapa? karena salah satu tugas Scrum Master yang saya tahu berdasarkan Scrum Guides yaitu: membantu tim agar bisa self-organize menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan menjadi fasilitator.

Namun dengan proses di atas saya malah jadi menemui beberapa kendala:
1. Saya jadi susah fokus dalam mendengarkan uraian tim karena harus multitaskingantara mendengarkan dan mencatat.
2. Setelah daily stand up selesai, saya harus merapikan dokumen, mencatat dalam Asana. Memakan waktu, belum sempat mengaddress masalah, eh sudah harus daily stand up dengan tim yang lain.

Am i doing the right thing as a Scrum Master?

Belakangan ini saya sadar, saya sepertinya salah. Kalau pekerjaan saya mendengar update masing masing tim dengan tanya kemarin ngapain, hari ini ngapain, dll, apa bedanya saya sama Project Manager?. Kalau Project Manager, ya wajar sih tanya update, kalau Scrum Master apa perlu?.

Sepertinya gak wajib. Kita boleh tau (lebih baik jika tahu) tapi bukan itu utamanya. Goal utama kita adalah bagaimana tim bisa dengan terbuka sharing seluruhblockers mereka sehingga kita bisa dengan segera bantu selesaikan. Kalau dalam bahasa saya: “kita amprokin deh tuh”, alias kita ketemukan dua belah pihak yang seperti gak terhubung, biar bisa saling bantu, atau cari titik temu antara permasalahan tersebut. Biasanya sih yang paling sering antara Product Manager (Product Owner) dan Development Team.

Masalahnya biasanya:
1. Ada implementasi fitur yang tingkat kesulitannya di luar ekspektasi.
2. Fitur ternyata kurang detil baik secara deskripsi maupun secara UI/UX.
3. etc.

Jadi sejak sekarang, saya tinggakan deh tuh laptop tiap daily stand up. Paling senjata saya adalah post it untuk menandai mana story (Sprint Backlog) yang sedang adablockers-nya atau untuk mencatat to do list saya setelah daily stand up.

Setelah itu? Ya amprok-amprokin deh tuh..

Reducing less important documentation, more time to assist your team.

“Yuk, sekarang sharing dulu, gak mesti update ya. Siapa mau jadi volunteer untuk mulai duluan? Nanti pilih siapa selanjutnya ya..”

Maker Indonesia : Tak Hanya Jadi Penikmat

Foto oleh Viking Karwur

Maker Indonesia

Kapan ya terakhir saya bikin sesuatu?. Sesuatu yang at least gak cuma dilihat oleh mata (dalam bentuk digital) tapi bisa dipegang, syukur-syukur jadi sesuatu yang berguna. Tetiba saya jadi langsung flashback ke masa kecil dulu. Masa kecil yang saya habiskan untuk bermain video game. Pada akhirnya saya menyadari bahwa kebiasaan itu ya gak jadi apa apa sekarang, gak ada gunanya. Penyesalan memang selalu datang belakangan dan akhirnya bermuara kepada gumaman : “Kok kasian yah anak-anak jaman sekarang kok kenalnya iPad, game online, dll”. Sesuatu yang sifatnya murni konsumtif.

Hmm, gak ada salahnya juga sih sebenernya, hanya saja menurut saya saat ini porsinya kurang seimbang. Konsumtif itu wajar, toh namanya menikmati sesuatu yang menjadi karya orang lain. Namun harus diimbangi dengan mental produktif misalkan memakai dan menggunakan karya orang lain sambil niat dalam hati kalau suatu saat nanti kita juga bisa buat itu. Kalau tidak ya bahaya, selamanya kita akan hanya bisa duduk diam sebagai penikmat, penonton, dan berpasrah terhadap sesuatu dari orang lain. Mungkin hal itu yang menjadi concern bersama saya, Viking Karwur, dan Finan Akbar saat gak sengaja main-main ke Make.Do.Nia Makerspace

Kesan pertama waktu main kesini : WONDERFUL!, serasa kembali ke masa kecil dulu. Keliatan deh dulu masa kecilnya kurang bahagia (red : MKKB). Bedanya ini semua mainan yang ada disini gak sekadar mainan, tapi bisa merangsang imajinasi kita untuk membuat sesuatu. Dan yang pasti disini mainannya sophisticated abis!, nyerah deh kalo beli, pasti mahal. Beruntung ada mas Iboy, dkk.

Untuk itulah Make.Do.Nia Makerspace didirikan oleh mas Iboy, dkk (dkk karena baru ketemunya sama mas Iboy, semoga nanti bisa ketemu makers yang lain). Beliau-beliau mau voluntary menyisihkan rezeki dan tenaga mereka untuk peduli dengan masa depan anak Indoneisa. Tujuannya ya itu, jadi wadah untuk para makers di Indonesia berkumpul dan saling sharing satu sama lain. Begitu dengar cerita dari mas Iboy, saya langsung ingat sama Hive NYC. Kayanya kalau makers lagi pada kumpul dan berbagi bisa keren begitu kali ya, WOW!.

Dan ternyata Make.Do.Nia juga rutin mengadakan acara yang mayoritas sampai saat ini GRATIS loh untuk diikuti. Teman-teman kalau berminat bisa langsung cek halaman meetupnya : MakerIndo yah. Siapa tahu teman-teman suka dan bisa berpartisipasi menyebarkan semangat makers ini bersama dengan teman-teman Komunitas Maker Indonesia lainnya.

Bersama mas Iboy dari Maker Indonesia dan Make.Do.Nia

Bersama mas Iboy dari Maker Indonesia dan Make.Do.Nia

Saya benar-benar excited ikut semua kegiatan di komunitas ini! gak boleh kelewatan 1 event pun!

PS : Coming soon, Maker Party 2014.

Make.Do.Nia MakerSpace
(http://www.makedonia.co/)
Jalan Pangeran Antasari No. 44
(di bawah flyover antasari, De Laris Resto)
Cipete, Jakarta Selatan.
twitter : Makedonia
meetup : MakerIndo

Pesta Sepesta Pestanya Pesta #Firefox #FirefoxIndonesia

Pesta Peluncuran  Firefox Teranyar

Pesta Peluncuran Firefox Teranyar

Gak nyesel jauh-jauh ke Bekasi adalah satu hal yang terpikir setelah acara ini jalan, sukses, dan rame banget!

postingan blog resmi : Pesta Peluncuran #Firefox Teranyar : #FirefoxIndonesia

Setelah beberapa tahun yang lalu cuma bisa menjadi penonton dan penikmat acara Firefox 4 Launch Party #fx4party, akhirnya saat ini bisa ikut terlibat menjadi volunteer pelaksana. Yap, Mozilla Indonesia kali ini hadir dengan pesta bertajuk Peluncuran Firefox Ternyanyar!. Acara ini diselenggarakan di Blizmegaplex Bekasi Cyber Park, 10 Mei 2014 lalu. Peserta yang hadir merupakan Mozillians dan Mozilla Reps yang mayoritas berasal dari Jabodetabek.

Mengapa judulnya tidak pakai versi? hmm.. sebenarnya dengan kenyataan rapid release saat ini, tentunya agak berat kalau setiap beberapa minggu sekali ada pesta release. Namun akhirnya pada versi kali ini ada sesuatu yang baru, ada sesuatu yang patut dirayakan. Apa itu sesuatu yang baru? teman-teman bisa download langsung firefox versi teranyar disini dan rasakan perbedaannya. Saya sih senang banget dengan versi ini karena lebih clean aja tampilannya. Plus yang paling penting adalah kecepatannya sob! kayanya lebih ngacir yang sekarang deh daripada versi-versi sebelumnya.

Terlepas dari firefox yang akan diperkenalkan, saya bertindak sebagai PIC Videografi pada acara kali ini. Hmm.. karena saya tidak punya banyak pengalaman sebagai videografer, plus tidak punya alatnya, jadinya kita sewa vendor luar deh. Akhirnya sepanjang acara waktu saya habiskan untuk membantu si videografer tersebut mendapatkan angle yang bagus dan pas seperti video-video acara Mozilla luar yang ada. Sekaligus ikut melakukan persuasi agar peserta mau diwawancarai. Dan untungnya peserta yang ada benar-benar kooperatif saat diminta wawancara untuk video. Yeah, I AM A MOZILLIAN!

Lalu bagaimana antusiasme peserta hari itu dan suasana berlangsungnya Pesta Peluncuran Firefox Ternyanyar kemarin?
Teman-teman bisa saksikan cuplikan videonya disini :

Seru kan?
Besok-besok pada ikutan acaranya Mozilla Indonesia yuk!

Kumpul Mozillians Semarang, Mei 2014 #MozKopDarSMG

foto ditangkap oleh @ucupsaklek, selengkapnya disini

Bertempat di Angkringan Blendoek, salah satu spot angkringan di kawasan kota lama Semarang, Mozilla Indonesia kembali dengan MozKopDar Semarang – Mei 2014 #MozKopDarSMG. Ini merupakan #MozKopDarSMG yang ketiga setelah sebelumnya dilaksanakan oleh saya dan Finan yang pertama disini, dan yang kedua oleh Rara disini. Pada malam itu saya dibantu oleh rekan-rekan dari Firefox Sudent Ambassador (FSA) Udinus. Ada Reza Faiz (Reza) dan Rizki D. Kelimutu (Kiki), mozillians Semarang sekaligus FSA Udinus yang hadir membantu. Yang saya kaget ternyata ada Burhanudin Jusuf (Ucup) mozillians yang sebelumnya tidak saya kenal ternyata kolega dari Fauzan Alfi dan Finan Akbar, Mozilla Reps. Dunia begitu sempit!

MozKopDar Semarang kali ini berbicara tentang #WebWeWant (http://webwewant.mozilla.org). Konsep besarnya adalah masing masing peserta akan bercerita, berdiskusi, dan berdebat menurut mereka web yang mereka inginkan itu yang seperti apa. Ada 6 kategori besar yang ada pada http://webwewant.mozilla.org. Untuk itu jawaban para peserta dibatasi pada 6 kategori tersebut. Kriteria tersebut diantaranya :

1. Privacy : berkaitan dengan keamanan data maupun jejak kita saat menjelajah.
2. Opportunity : berkaitan dengan terbukanya kesempatan-kesempatan baru dengan adanya web tersebut.
3. Accessability : berkaitan dengan ketersediaan web tersebut untuk dapat diakses oleh siapa saja.
4. Freedom : berkaitan dengan kebebasan.
5. Learning : berkaitan dengan apakah web tersebut dapat memberikan kepada kita sebuah pembelajaran baru.
6. User Control : berkaitan dengan ketersediaan pilihan kepada kita untuk mengontrol jejak yang kita tinggalkan.

Saya memulai diskusi dengan menjelaskan terlebih dahulu keenam kategori tersebut, baru seluruh peserta menuliskan pendapat mereka pada post-it masing-masing. Dan yang paling seru adalah, bagi siapa yang punya pendapat paling komperhensif akan mendapat kaos Firefox special edition!.

Ternyata diskusi berjalan cukup cair. Masing-masing peserta ada yang saling setuju dengan pendapat peserta lainnya, namun ada juga yang mempertanyakan. Saya disini berposisi sebagai pemberi insight berdasarkan pengetahuan yang saya miliki mengenai prinsip Mozilla sekaligus memoderatori diskusi yang berlangsung. Dan dari seluruh pendapat yang diutarakan oleh peserta, saya menemukan beberapa pendapat yang unik diantaranya :

1. Privacy : “saya bukan orang penting, jadi menurut saya data saya tidak penting”. “penting atau tidak, semakin banyak data yang diperoleh maka yang tidak penting bisa jadi penting”.
2. Opportunity : “contribute gimana caranya sih?”.
3. Accessability : “semua itu yang penting akses, mau sebagus apapun, kalau tidak bisa diakses untuk semua, buat apa?”.
4. Learning : “yang paling penting adalah adakah pengetahuan baru di dalamnya, bahkan situs porno saja memberikan pengetahuan baru buat kita lho!”
5. Freedom : “mudah-mudahan kita tetap bebas mengakses semua situs yang ingin kita buka”. “hmm ini sepertinya ini tergantung regulasi masing-masing negara yah kak?”
6. User Control : “hmm bukannya data yang diambil itu bisa meningkatkan performa sebuah bisnis e-commerce?, bukannya itu malah memudahkan users?”

Dan entah kebetulan atau tidak, karena mayoritas yang hadir disini adalah mahasiswa, sebagian besar memilih Learning.

Bersama Ucup dan Kelimutu (minus Reza) yang membantu pelaksanaan #MozKopDar kali ini

Bersama Ucup dan Kelimutu (minus Reza) yang membantu pelaksanaan #MozKopDar kali ini

Seru banget lah diskusi malam itu. Semua puas dan saling melengkapi pendapat.
Terima kasih buat rekan-rekan yang sudah hadir!

Kemarin bukan hanya mahasiswa lho yang hadir. Ada Mbak Siska Astari dari dotSemarang yang hadir untuk meliput!
Berikut hasil liputannya dapat disimak disini :