Tanyain Dong

Dev: Pe, tolongin tanyain ke Joe (Product Manager) dong, story yang ini harusnya gimana?, belom jelas nih..

Joe: Pepe, do you know how much complexity points that Happy team will commit for the next sprint?

*bolak-balik*

Capek sendiri, pusing sendiri, kayaknya kok sibuk banget (sibuk?, atau disibuk-sibukkin??). Inginnya sih memfasilitasi tim, tapi kok bukannya membuat tim makin mandiri, malah membuat tim makin manja. Makin males nanya langsung. Minta tolong tanyain terus. Padahal bisa tanya langsung entah via Slack, e-mail, bahkan bisa “nyamperin” orangnya langsung.

Lalu kita merasa sudah jadi Scrum Master yang hebat, yang sukses, karena kita bisa membantu tim. Rasanya seperti:
1. “Wow, saya punya power nih”.
2. “Wah, tim udah tergantung saya banget nih, kalo gak ada saya, tim gak akan jalan”.
3. “Yes, saya sudah menjadi orang yang paling penting di tim saya”.
4. etc.

Ada yang merasa kaya gitu?
Hmm..

Are you a Scrum Master? or just a messenger?

Agile yang saya tangkap itu berarti kita siap menerima perubahan. Perubahan tersebut bukan berarti berlangsung terus menerus dengan tidak terkendali sehingga terjadi chaoslho. Gimana caranya? ya harus bisa menanamkan Agile mindset dulu yang salah satunya: Transparency, yang berarti Terbuka (seluruhnya, bukan sebagian, atau sebagian besar). Biar apa? biar kita tahu kondisi masing-masing, dan bisa cepat ambil tindakan strategis (Agile mindset berikutnya: Adapt).

Kalau setiap saat harus panggil Scrum Master untuk tanya ini, tanya itu, yang sebenarnya bisa ditanyakan langsung ke PM/PO (atau sebaliknya), dimana letak keterbukaannya?. Gimana mau ambil tindakan cepat kalau terjadi apa-apa, kalau prosesnya lambat, berbelit belit: tanya sana, sampaikan sini, tanya sini, sampaikan sana. Ini mau bikin product atau bikin KTP di kelurahan?.

Penerapan di HappyFresh sih gak se-ekstrim: “Tanya langsung ke dia dong, kan punya mulut”. Tapi at least saya mulai pelan-pelan dengan jawaban yang tidak memanjakan.

“Belum jelas ya? yuk tanya Joe langsung”. 

“Coba nanti kita diskusi ya sama tim, saya gak bisa jawab dengan pasti nih sebelum tanya langsung”.

Bukan berarti gak nanya, atau gak peduli sama tim lho. FYI, saya setiap hari kalau lagi senggang kerjaannya ya siskamling atau kadang bikin checkpoint dalam beberapa interval jam sekali untuk sekadar ngupdate blockers: “Gimana? aman terkendali? ada yang butuh dibantuin gak? ada kendala?” – “Yuk ke dia langsung”. Walaupun kadang-kadang ada sih yang masih malas, “Udah deh Pe, lo aja yang tanyain”. Tapi sih mulai beberapa minggu belakangan sering saya paksa akhirnya, HAHAHA.

Hayo, jangan sampai salah kaprah ya. Goal dari Agile team itu sepengetahuan saya agarall team member become self-organized. Bukan kita-nya malah menjadi perantara pesan. Kita harus encourage tim supaya bisa melakukannya sendiri.

Sampai pada akhirnya Scrum Master tidak akan dibutuhkan lagi.
Lalu akan kehilangan fungsi dan peran.
Dan akhirnya Scrum Master akan kehilangan pekerjaannya.

Ironi kan?

Sampai pada titik itulah tanda kesuksesan seorang Scrum Master sesungguhnya.

(Lalu ia akan mencari tim lain yang masih membutuhkannya, untuk disulap kembali menjadi self-organized team berikutnya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *